Selasa, 02 April 2013

(unknown title) - part 1

Diposting oleh 28 di 18.15

Author : Clover
Genre : Romance, Comedy
Casts:
-Boki couple (Song Joong ki, Park Bo young)

note : Disini gue cuma numpang pake nama mereka berdua aja, storynya murni imajinasi gue sendiri. Well, ini pertama kalinya gue bikin fanfict :p (ini fanfict bukan? haha), dan gue nggak terlalu suka juga sama hal-hal berbau korea, tapi semenjak gue liat film 'A werewolf Boy', dan ngeliat kedekatan Park Bo young sama Song Joong ki, gue nggak tahan buat bikin cerita tentang mereka... gue nggak tau ini cerita bakal dibaca sama orang apa engga (lol), but yeah, enjoy ~

*****

"Apa? tawaran main film?"

Song Joong Ki membuka kulkas dan mengambil sekaleng cola, ponselnya terapit diantara telinga kiri dan bahunya.

"Kurasa aku sudah bilang akan istirahat sampai akhir tahun nanti." katanya sambil menarik penutup kaleng, csss, suara desis soda yang riang memecah kesunyian apartemennya yang gelap.

"Tapi tawaran ini sayang sekali untuk kau lewatkan." ujar Dong Soo, managernya dengan antusias. "Kau tahu, film ini bukan film biasa, film ini filmnya Sutradara Shin!"

Joong Ki tak jadi meminum colanya, alis tebalnya terangkat sebelah, "Apa? Benarkah?"

"Ha, kau kaget kan?"

Joong Ki membawa colanya menuju ke ruang TV dan duduk di salah satu sofa, ia meneguk colanya sebelum berujar, "Filmnya pasti akan makan banyak waktu," Joong Ki ingat ketika terakhir kali ia mendapat peran utama untuk film action-thriller Sutradara Shin, ia menghabiskan waktu satu tahun lebih untuk bekerja keras, mulai dari awal proses latihan bela-diri, proses syuting, hingga proses promosi film. Hasilnya pun memuaskan, filmnya ditonton 5 juta orang dalam waktu seminggu dan ditayangkan di 6 negara asia. Sebenarnya bermain di film Sutradara Shin yang baru pasti akan menyenangkan, tapi, sekarang ia benar-benar butuh istirahat.

Tawa Dong Soo yang renyah mengembalikan konsentrasi Joong Ki, "Mungkin, tapi film kali ini akan benar-benar berbeda!"

"Apanya?"

"Tidak akan ada acara tembak menembak ataupun saling bunuh di filmnya kali ini, karena..."Dong Soo memberi jeda, seolah menambah efek dramatis pada kalimat selanjutnya. "Filmnya bergenre romantis! Bayangkan!"

Joong Ki hampir tersedak mendengarnya, ia menelan seteguk cola yang sudah berada dimulutnya dengan paksa, "Apa?"

"Ya,ya, kutahu kau pasti terkejut!" lanjut Dong Soo. "Seorang Sutradara Shin yang selama ini tersohor akan kepiawaiannya menghasilkan film action dan thriller yang menakjubkan tiba-tiba ingin membuat film romantis! Bahkan wajahnya yang garang itu sama sekali tidak cocok untuk hal-hal seperti ini, kaupun berpikir begitu bukan?"

Joong Ki tersenyum mendengarnya, "Aku tak mengerti, kenapa ia tiba-tiba ingin membuat film seperti itu?"

"Yah, kau tanyakan sendiri saja alasannya." jawab Dong Soo. "Sutradara Shin menghubungiku kemarin, katanya ia tertarik menjadikanmu peran utama di film barunya ini, aku sudah bilang kau cuti sementara, tapi ia bersikeras, dia bilang hanya kau yang cocok untuk bermain di filmnya. Berlebihan, ya? Tapi sutradara itu terdengar antusias sekali. Yah, keputusan tetap ada ditanganmu, Joong Ki."

Joong Ki menatap langit-langit apartemennya, tiba-tiba niatnya untuk cuti sampai akhir tahun dari dunia showbiz goyah, tawaran ini menarik sekali. "Akan kupikirkan lagi, Hyung."

Diseberang, Dong Soo tersenyum, ia tahu kalau anak asuhnya itu tak akan melewatkan kesempatan langka ini. "Baiklah, nikmati hari liburmu, akan kuhubungi kau nanti."

Joong Ki menaruh ponselnya diatas meja kecil disamping sofa, kemudian mengambil remote TV. Ia menyalakan TV dan langsung menekan tombol channel berita. Seorang reporter wanita sedang membacakan berita mengenai krisis ekonomi dengan wajah getir. Joong Ki bersandar santai di sofa sambil mendesah, otaknya berpikir keras. Apa ia harus mengorbankan waktu liburan yang telah ia minta berbulan-bulan lalu pada agensinya untuk bermain di film Sutradara Shin?

Tentu tidak.

Atau ya.

Ia sudah kenal dekat dengan sutradara nyentrik berbakat itu, dan ia ingin sekali terlibat dalam proyek barunya ini.
Tapi, disisi lain, ia sudah jenuh dengan kilatan blitz kamera yang selalu membidiknya, stiker bertuliskan 'Song Joong Ki, artis yang sedang naik daun' seolah menempel di dahinya. Awalnya memang terasa menyenangkan, tapi lama-lama tak dapat dipungkiri ia merasa muak. Ia sungguh butuh privasi sekarang, dan tentunya, liburan.

Tapi... dari pengalamannya, proses pembuatan film komedi-romantis tidaklah terlalu melelahkan. Dan tidak diperlukan latihan beladiri atau semacamnya sebelum mulai proses syuting. Jadi...

Tiba-tiba suara dentingan piano yang riang membuyarkan lamunan Joong Ki. Ia menatap layar TV, wajah presenter tadi sudah berganti dengan wajah seorang gadis yang ceria. Gadis itu memakai dress warna-warni yang mengembang dan wig keriting berwarna pirang yang diatasnya terdapat pita besar berwarna pink. Ia berlarian bersama anak-anak kecil di sebuah negeri permen sambil membawa peta harta karun, kemudian ia menemukan kotak harta karun berwarna pink dibalik sebuah pohon permen, kotak itu berisi bermacam-macam coklat bermerk Coco. Joong Ki menelan ludah saat menyaksikan gadis dan anak-anak itu menggigit coklat dengan nikmatnya. Kira-kira... sudah berapa lama ya, ia tidak makan coklat?

Baiklah.

Joong Ki mematikan TV dan beranjak menuju kamarnya. Ia langsung mengambil Hoodie berwarna biru dongker dan topi berwarna senada dari dalam lemari. Setelah siap dengan penyamaran yang seadanya, Joong ki keluar dari apartemen mewahnya dan berjalan menuju minimarket lewat gerbang belakang.
Ah... sudah lama ia tak berjalan-jalan sendirian saat malam hari.

Ia sama sekali tak merasa khawatir akan ketahuan fansnya. Song Joong Ki yang biasanya tak mungkin memakai celana gombrang selutut dan sendal jepit di akhir musim gugur, belum lagi tak banyak cahaya yang dapat menyorot wajahnya sehingga orang yang lalu lalang tak menyadari bahwa Song Joong Ki, seorang aktor dan penyanyi terkenal sedang berjalan santai menuju minimarket untuk membeli coklat Coco.

Joong Ki melewati beberapa minimarket yang berada di lingkungan apartemennya. Malam ini harusnya terasa dingin menusuk tulang, tapi suhu tinggi tubuh Joong Ki menjaganya tetap merasa hangat. Ia rindu saat-saat bebas yang langka seperti ini. Jadi, ia memutuskan untuk berjalan lebih jauh.

Akhirnya Joong ki  memasuki minimarket yang terletak disamping klinik dokter gigi dan warung mie yang sudah tutup. Daerah ini tak pernah ia kunjungi sebelumnya, jalannya juga sempit dan tidak terlalu ramai, dengan pencahayaan yang remang.

"Selamat datang."
Joong Ki agak terkejut saat mendengar sapaan dari arah kasir. Ia merendahkan ujung topinya agar lampu di minimarket tidak menyorot wajahnya. Setelah mengambil keranjang, Joong Ki langsung memburu makanan ringan seperti orang gila, 1 bungkus besar keripik singkong dan keripik kentang, 2 botol besar jus jeruk dan soju, 3 bungkus ramyun dan 5 batang coklat Coco. Ia mendesah puas saat melihat keranjangnya yang penuh diatas meja kasir.

"Wah... Anda sedang kelaparan ya?"
Joong ki mengangkat wajahnya untuk menatap penjaga kasir yang sedang mengambil makanannya satupersatu dari keranjang. Ia tertegun, rasanya... ia pernah melihat gadis itu.

"Hanya butuh waktu 3 menit untuk mengambil semua makanan ini, ckck."

"Ah..."  Joong ki memasukkan tangannya kedalam saku hoodie. "Aku tak tahu kau menghitung."

Gadis penjaga kasir itu tersenyum, "Minimarket sedang sepi sih, jadi aku memutuskan untuk memerhatikanmu... Ngomong-ngomong, aku juga suka coklat ini."

Joong ki melihat gadis itu tersenyum sambil menunjukkan satu batang coklat Coco.

"Baiklah, semuanya jadi 62.000 won."

Joong ki memberikan selembar 100.000 won, lalu kembali memerhatikan gadis penjaga kasir yang sedang mengambil uang kembalian. Di celemeknya ada nametag bertuliskan Park Bo young. Joong ki tersenyum, nama yang bagus.

"Ah, benar." ujar gadis itu tiba-tiba, ia menggeser rak cd kecil yang berada diujung meja kasir. "Kau tidak terburu-buru kan? boleh aku promosikan album-album ini sebentar? bossku mewajibkan setiap karyawan untuk mempromosikan album-album ini pada setiap pelanggan, memusingkan sekali."

Joong ki tersenyum mendengar celotehan gadis itu, suaranya lucu, "Baiklah, aku punya cukup waktu."

"Terima kasih. Yah, kau tahu, minimarket ini mulai menjual album-album baru dari penyanyi yang sedang booming. Kalau kau tertarik, kau bisa membelinya. Aku tidak memaksamu lho. Aku kan hanya promosi. Umm, disini yang paling banyak dibeli itu album..."

Sambil mendengarkan nona Park Bo young di depannya berceloteh, Joong ki menatap rak CD itu dan tersenyum saat melihat albumnya berada dibagian teratas rak.

"Halo? apa kau mendengarkanku?"

"Tentu saja. Kalau kau suka yang mana?"

"Aku?" gadis itu memiringkan kepala sambil melihat rak CD. "Umm, aku suka Jay Park, tapi albumnnya sudah habis."

"Kalau ini?" Joong ki mengambil albumnya dan menunjukkannya. "Katanya albumnnya terjual sampai 1 juta copy dalam kurun waktu sebulan."

"Song Joong ki? Cih," bibir gadis itu mengerucut. "Kenapa banyak sekali orang yang menanyakan albumnya ya? padahal menurutku dia biasa saja... yah, ada beberapa lagunya yang sering kudengar sih, tapi, dia itu menyebalkan...Ah, maaf, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menjelekkannya. Maaf ya."

Song Joong ki tercengang, apa barusan gadis di depannya ini baru saja bilang dia biasa saja dan menyebalkan dalam satu tarikan napas? Bibirnya melengkung membentuk senyuman geli.

"Kau anti-fannya?"

"Apa? anti-fan? tidak...tidak...aku hanya... punya kenangan buruk dengannya."

Kening Joong ki berkerut dibalik bayangan topinya, "Apa itu?" tanyanya reflek.

"Aaah, itu sudah lama sekali. Ah! Selamat datang, ajeossi!" .

Joong ki berbalik dan menatap seorang paman memasuki mini market. Yah, sepertinya sudah waktunya ia pergi.

"Baiklah, aku beli album ini saja." ujar Joong ki sambil menyodorkan albumnya sendiri. "Kebetulan aku ini fan fanatiknya."

Park Bo young tercengang, senyum cerianya berubah canggung, "Aaa... benarkah? aku bukan bermaksud..."

"Aku tahu, tenang saja." Joong ki menahan seringaiannya.

"Baiklah, ini kembaliannya."

Joong ki menerima uang dan kantung keresek yang disodorkan Bo young-ssi dihadapannya.

"Terima kasih banyak ya!" ujarnya dengan ramah. "Hati-hati saat jalan pulang."

"Kau baik sekali. Park Bo young-ssi." ujar Joong ki sambil berpura-pura membaca name tag di celemek Bo young. Ia kemudian mengeluarkan sebatang coklat dan menyodorkannya untuk gadis itu. "Untukmu, ambilah."

Mata Bo young melebar, "Tak usah, sungguh..."

"Ambilah, Bo young-ssi. Aku memaksa."

Bo young tersenyum, "Baiklah kalau begitu, terima kasih ya, kau juga baik sekali."

Joong ki tersenyum dan mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan. Park Bo young balas melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum manis. Sekejap Joong ki merasa terpesona.

"Datang lagi ya!"

Joong ki hanya tersenyum, ia menenteng keresek makanannya yang besar sambil memakan sebatang coklat coco keluar dari minimarketSudah lama ia tidak berinteraksi dengan orang asing yang tak mengenal siapa dirinya di tempat umum.

Sudah lama juga ia tidak merasa hangat karena diperlakukan ramah oleh seorang wanita.

Hmm, mungkin lain kali ia akan mampir ke minimarket itu lagi.

*

"Pacarmu, Bo young?"

Bo young mengalihkan perhatiannya dari monitor kasir pada Kim Jeong-guk, seorang ajeossi yang hampir setiap malam datang ke minimarket untuk membeli soju, ramyun atau rokok. Badannya gempal dan pendek, seperti pesumo, tapi wajahnya selalu dihiasi senyum.

"Siapa?"

"Lelaki yang tadi mengobrol denganmu disini."

"Ah, itu. Bukan, dia bukan pacarku, dia pelanggan baru."

"Begitukah?" Jeong-guk mengeluarkan segulung uang dari sakunya. "Kau harus berhati-hati pada lelaki Bo young, gadis cantik sepertimu pasti akan banyak yang mengejar... apa kau punya pacar? berapa semuanya?"

Bo young sudah terbiasa dengan pertanyaan beruntun dari ajeossi dihadapannya ini. "Kebetulan aku tidak punya, ajeossi, apa kau punya seseorang untuk dikenalkan padaku? Smeuanya jadi 20.000 won."

"Ah, kau ini," Jeong-guk memberikan 2 lembar 10.000 won pada Bo young. "Sebenarnya kau hanya perlu mengedipkan matamu saja pada lelaki manapun yang kau suka, kuyakin dia akan langsung bertekuk lutut didepanmu."

"Ah, ajeossi terlalu berlebihan," komentar Bo young sambil tertawa. "Baiklah, terima kasih sudah berbelanja disini ya, salam untuk Ajumma di rumah!"

"Ya, selamat malam!"

Bo young mengangguk, saat Jeong-guk sudah keluar dari mini market, ponsel di saku sweaternya berdering. Dari Manajer Han. Ia menengokkan kepala kekanan dan kiri, manajernya sedang sibuk dibelakang minimarket, dan tampaknya, dari situasi jalan yang sepi, tak akan ada pembeli dalam waktu dekat,

Sudut bibir Bo young terangkat, ia menekan tombol hijau dan mulai berbicara pelan, "Selamat ma..."

"Park Bo young! Kau tak akan percaya dengan berita yang akan aku sampaikan! Aigoo, aigoo, aku benar-benar tak dapat menahan diri! GYAAAA!"

Bo young menjauhkan ponselnya dari telinga sebentar, teriakan melengking Manager Han membuat telingannya berdenging seketika, "Eonni, tenanglah."

"Tidak, tidak, tidak, aku tidak bisa tenang! Astaga Bo young, kau pasti juga akan merasa terkejut!"

"Ada apa sih, eonni? Oh, apa ini tentang iklan yang baru-baru ini aku bintangi?"

"Iklan? ah, bukan, bukan tentang itu! ini sesuatu yang lebih spektakuler!" jawab Manager Han, suaranya sudah lebih terkontrol sekarang. "Tapi mengenai iklan itu, sepertinya produsen Coco suka dengan imagemu di iklannya, katanya angka penjualannya juga sedikit meningkat setelah iklan itu ditayangkan."

Senyum Bo young makin lebar, ia meletakkan tangan diatas dada, "Begitukah? Syukurlaaaah."

"Kau senang?"

Bo young mengangguk, "Tentu saja!"

"Aku punya berita yang lebih bagus untukmu! Kau pasti takkan bisa menebak apa."

"Umm... tentang perpanjangan kontrakku di majalah Cherry?" tebak Bo young.

Diseberang sana Manager Han menggoyang-goyangkan telunjuknya, "A-a~ salah!"

"Apa dong..."

"Yah, sepertinya aku memang harus memberitahumu. Kau tahu Sutradara Shin? Itu, yang menyutradarai film A thousand miles from city, film yang kita tonton bersama di bioskop di barisan bangku paling depan karena telat membeli tiket. Naaah, dia akan membuat film baru musim dingin ini! Dan... dan... Bo young, kau mendengarkanku tidak?"

"Ya, lanjutkan eonni."

"Lalu, sampai mana tadi?"

Bo young tersenyum sambil geleng-geleng kepala, dasar eonni, "Sampai sutradara Shin akan membuat film baru di musim..."

"Ah, kau benar! Dan kau tahu tidak?! Sutradara besar itu barusan menghubungi agensi kecil kita dan mengundangmu untuk ikut casting dalam film barunya! Katanya ia melihatmu di majalah Cherry dan merasa imagemu akan cocok dengan filmnya, jangan tanyakan aku kenapa sutradara berwajah gorila itu membaca majalah anak-anak seperti Cherry, karena aku juga tak mengerti!"

Bibir Bo young bergerak-gerak kaku, "Apa? Eonni, kau... kau se-serius?"

"Ya! Ya! Terkejut kan?! Kami langsung heboh setelah menerima telepon itu! Pokoknya, besok jam 10 kau sudah harus ada di agensi ya! Sampai jumpa!"

"Eon...Tuuuut....tuuuut...."...ni..."

Bo young menurunkan ponselnya dari telinga lambat-lambat, suara denting lonceng pintu minimarket yang terbuka membuatnya terlonjak kaget, "Ah, Se-selamat datang!" sapanya sambil membungkukkan badan pada seorang lelaki kurus beruban.

Bo young segera menaruh ponselnya kedalam saku sweater. Jantungnya berdetak kencang, ia diundang casting film Sutradara Shin? Astaga... benarkah?

Sebenarnya, Bo young tidak terlalu merasa girang mendengarnya, ia hanya... terkejut dan otomatis jadi berdebar-debar. Ia tidak pernah ikut casting film apapun sebelumnya. Selama ini ia hanya jadi model serabutan di majalah anak-anak, katakanlah, modal utamanya hanya wajahnya yang imut dan ceria. Bahkan tinggi badannya saja hanya 153cm. Proyek terbesarnya adalah iklan coklat merek Coco beberapa bulan silam, dan iapun sangat payah saat proses syuting. Dan sekarang ia tiba-tiba... ikut casting main film?

Eonni pasti bercanda. pikir Bo young sambil menggeleng. Sekalinya ia ikut casting pun, ia pasti akan gagal dan membuat malu agensi.

"Kau mau hitung belanjaanku atau tidak?"

Bo young mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan seorang lelaki tua yang berwajah kesal, matanya menyorot Bo young dengan sengit, "Ah, maaf ajeossi. aku melamun." sahut Bo young sambil membungkukkan badan berulang kali. Dengan terburu-buru ia segera menghitung belanjaan lelaki tua didepannya.
Aaah...
Bo young mendesah pelan, aku kan payah, mana bisa ikut casting film hebat seperti itu batinnya sambil geleng-geleng. Besok, ia akan bilang ke Manajer Han kalau ia tak siap mengikuti casting film, setidaknya untuk sekarang.

*

"Tentu saja kau siap!"

Bo young terkesiap saat mendengar suara melengking Manajer Han. "Ta-tapi... eonni...aku..."

"Bo young sayaaaang, ini adalah kesempatan besarmu untuk mengepakkan sayap lebih lebar di dunia showbiz korea! pikirkan baik-baik!" potong Manajer Han.

"Benar, Bo young-ssi, kau juga bisa mengangkat nama agensi kita yang sudah terpuruk ini." tambah Hyorin, makeup artist milik agensi Bright, agensi kecil yang menaungi Bo young dan beberapa model lainnya.

"Tapi aku..."

"Apa kau tidak bosan jadi model majalah anak-anak terus? Kau pernah bilang tujuanmu masuk agensi ini karena ingin cari banyak uang kan? Dengan bermain di film sutradara Shin, aku jamin dompetmu akan menebal berkali-kali lipat! Kau tidak akan perlu bekerja part time disana-sini lagi! Pikirkan itu Park Bo young." tambah Manager Han dengan semangat.

Bo young tersenyum canggung, memang benar sih... tapi... "Aku tidak percaya diri, eonni, lagipula sejak awal aku tak pernah berniat serius dibidang ini... aku hanya coba-coba, kau tahu..."

"Ah! Lupakan hal itu!" potong Manager Han. "Cobalah untuk ikut casting, Bo young. Aku sadar kau memang dilahirkan untuk jadi seorang artis sejak pertama aku melihatmu. Kau memang agak payah di depan kamera... tapi kau punya bakat! Percayalah pada Manajer Han ini. Soal berhasil atau gagal, itu masalah nanti, yang penting kau mencoba, ya?"

Bo young menunduk sambil memilin jarinya, rasanya tak enak juga kalau menolak tawaran casting ini, padahal semua orang di agensinya kentara sekali menaruh harapan pada dirinya, tapi... ia berhak memutuskan, kan?
Uh, Bo young mengerucutkan bibirnya, baiknya bagaimana ya?

"Apa sih, yang kau takutkan?" tanya Manajer Han, seolah ia tidak mendengar penjelasan Bo young tadi.

"Aku kurang percaya diri akan kemampuanku berakting. Aku juga... takut mempermalukan agensi ini... aku ... pokoknya..." Bo young menelan ludah ditengah suasana hening diantara dirinya dan staf-staf agensi Bright yang sedang memerhatikannya. "Aku... aku tidak siap."

Manajer Han tersenyum, "Kau memang belum siap. Tapi kami semua akan membantumu untuk siap!"

"Benar, Bo young-ssi, waktu casting masih sebulan lagi, kau masih punya waktu untuk latihan!" timpal salah seorang staff sambil mengacungkan jempol.

"Iya, kau bisa belajar."

"Kau pasti bisa!"

"Semangatlah!"

Bo young menggigit bibirnya dan seketika terharu mendengar dukungan para staff agensi Bright, ia menatap satu persatu wajah yang tersenyum hangat sambil memberinya semangat, tatapannya terhenti pada Manager Han yang terlihat bersemangat, diusianya yang sudah lebih dari 30 tahun, wanita itu selalu terlihat enerjik dan muda, "Bagaimana?"

"Tak ada salahnya untuk mencoba, lho." timpal Hyorin sambil mengedipkan matanya.

Bo young tersenyum dan mengangguk pelan, "Baiklah..." ujarnya, masih setengah tak yakin.

Wajah Manajer Han langsung bersinar secerah matahari musim panas, senyum di bibir berlipstiknya bertambah lebar beberapa senti, ia menghampiri Bo young dan menggenggam tangannya erat, "Bagus! Mulai sekarang, percayakan semuanya pada eonni-mu ini! Akhirnya, tiba juga kejayaan agensi reot ini! Hidup agensi Bright!!!"

Bo young hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala dengan gugup. Semoga saja aku bisa...
*

0 komentar:

Posting Komentar

 

Clover's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos