Jumat, 05 April 2013

(unknown title) - part 2

Diposting oleh 28 di 21.20
***

Song Joong ki melepas kacamata hitamnya dan mengaitkan benda itu ke saku jasnya. Ia dan managernya, Dong Soo memasuki sebuah restoran mewah dan langsung mencari sosok Sutradara Shin. Beliau sedang duduk sendirian di meja yang terletak di sudut ruangan, menghadap ke jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kota Seoul di malam hari, asap rokok mengepul diudara sekitarnya.

"Oh, Joong ki!" sapa Sutradara Shin, wajahnya yang garang dengan bekas luka dalam di pipi kirinya menyeringai. "Dong Soo, kau makin gemuk saja."

Dong Soo hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Setelah saling bersalaman dan duduk santai, Sutradara Shin menghancurkan sisa rokoknya di asbak dan tanpa basa-basi mulai pada topik pembicaraan.

"Aku senang kau mau ikut serta di film baruku." ujar Sutradara Shin. "Dengan ini rating filmku pasti akan tinggi."

"Apa? Jadi kau memintaku bekerja sama hanya untuk menaikkan rating film?"

"Tenanglah, anak muda. Tentu saja karena aku merasa peran utama laki-laki di film ini cocok denganmu." ujar Sutradara Shin.

Joong ki menyeringai, "Kenapa hyung tiba-tiba ingin buat film romantis? Jujur saja ini menggelikan."

"Aku tahu, aku tahu." jawab Sutradara itu. "Aku hanya tertantang untuk mencoba hal yang baru. Akhir-akhir ini istriku suka sekali menonton film romantis sampai menangis tersedu-sedu... aku baru sadar aku belum pernah menghasilkan film yang dapat membuat seseorang menangis terharu seperti itu. Jadilah, setelah aku mendiskusikannya dengan pihak yang bersangkutan, mereka dengan semangat ingin mewujudkan niatku."

Joong ki menaikkan sebelah alisnya, "Aku sudah membaca garis besar ceritanya... rasanya aneh sekali membayangkan hyung menulis cerita seperti itu..."

"Tidak, tidak, tentu saja bukan aku yang menulisnya. Otakku tumpul untuk hal-hal romantis seperti itu, jadilah aku bekerja sama dengan Se-na, ternyata dia punya banyak naskah film romantis di laptopnya. Akupun terkejut saat membaca satu persatu ceritanya. Ternyata ia berbakat juga."

"Benarkah? Hebat." joong ki tersenyum. Se-na adalah istri Sutradara Shin. Diluar dugaan ternyata hubungan pernikahan mereka berjalan lancar, padahal karakter mereka sangat bertolak belakang. Sutradara Shin cenderung disiplin dan bicara sekedarnya, sedangkan Kim Se-na sangat ceroboh dan tak pernah berhenti bicara seperti burung beo. Awalnya Joong ki sempat ragu apa mereka bisa bertahan bersama. Tapi, melihat pancaran sinar kebahagiaan di mata Sutradara Shin saat ia membicarakan istrinya meruntuhkan keraguannya. Syukurlah mereka bahagia.

"Lalu, untuk peran utama perempuannya..." lanjut Sutradara Shin setelah pelayan selesai menata main course diatas meja. "...aku punya beberapa calon, jadi aku akan melakukan casting."

"Casting?"

"Ya, 2 minggu lagi, kau bisa datang?"

"Um, sepertinya bisa. Jadwalku dikosongkan sampai akhir tahun."

"Benarkah? bagaimana bisa untuk artis sepertimu?"

"Aku sudah meminta liburan pada agensiku sejak tahun kemarin. Awalnya aku mau memakai waktu berharga ini untuk istirahat dan jalan-jalan, tapi yah... kurasa aku juga tak mau melewatkan kesempatan bermain di film barumu."

Sutradara Shin tersenyum, "Haruskah kuucapkan terima kasih karena kau telah bergabung? Atau permintaan maaf karena mengganggu waktu liburmu?"

Joong ki memutar bola matanya dan mengambil gelas yang sudah diisi anggur disamping piringnya, "Lebih baik kita mulai makan saja sekarang. Sebelumnya, cheers?"

Sutradara Shin terkekeh dan mengangkat gelasnya, "Cheers, Dong Soo?"

Dong Soo yang sedari tadi hanya diam memerhatikan jalannya percakapan dengan gugup ikut mengangkat gelasnya dan berkata, "Cheers."

*

"Bo young-ssi, kau ini sedang apa? konsentrasilah saat bekerja!"

Seruan Kim 'si kumis tebal' membuat Bo young refleks menggulung naskah di genggamannya dan menyembunyikan naskah itu dibalik celemeknya, ia mendongak menatap wajah cemberut manajer minimarket tempatnya bekerja. "Maaf, Manajer Kimaku hanya sedang menghafal sesuatu" kata Bo young dengan cengiran lebar.

"Menghafal, hah? lakukan saja hal itu nanti setelah kau selesai bekerja!"

Bo young mengangguk, "Baiklah..."

Ting! suara lonceng yang menandakan pintu minimarket dibuka mengalihkan perhatiannya, ia refleks membungkukkan badan pada tamu yang datang, "Selamat datang!"

"Hei."

"Eh, kau!" senyum di wajah Bo young merekah saat melihat sosok lelaki jangkung dihadapannya. Lelaki itu masih memakai pakaian yang sama ketika terakhir ia temui, sendal jepit, celana gombrang selutut berwarna hitam, hoodie berwarna biru dongker, serta topi berwarna senada yang menutupi matanya.

"Kau masih ingat aku, Bo young-ssi?"

"Tentu saja! kau yang beli 5 coklat Coco malam selasa kemarin kan?"

"Whoa, ingatanmu hebat. Itu kan sudah 5 hari yang lalu." puji lelaki itu sambil mengambil keranjang disamping meja kasir.

"Tentu saja, kau mau belanja apa?"
Ups, muncul lagi sikap selalu-ingin-tahu ala Park Bo young, tapi instuisinya mengatakan lelaki dihadapannya tak keberatan akan hal itu.

"Apa ya? sesuatu yang enak untuk jadi cemilan saat menonton film... ada rekomendasi?"

"Popcorn dan cola?"

"Apa tidak terlalu biasa?"

"Aa, benar juga. " Bo young menatap ke atas, kebiasaannya saat sedang berpikir, " Kalau aku sih... suka makan cemilan yang manis-manis. Contohnya biskuit chocochips, wafer vanilla, bola-bola coklat, pocky... nonton film sambil makan eskrim juga enak! tapi karena sekarang cuaca sedang dingin... sebaiknya jangan!"

Lelaki itu tersenyum. Meski samar-samar karena tertutup bayangan topinya, Bo young dapat melihat lesung di pipi kanannya, "Sesuatu yang manis... baiklah."

Lelaki itu berbalik, berjalan menuju rak-rak makanan. Bo young memerhatikan punggung lebarnya sebelum kembali diam-diam membaca naskah lagi. Aaaah, melelahkan sekali! keluh Bo young dalam hati. Selama 5 hari terakhir ini ia terus berada di agensi untuk menerima segala 'pelatihan' untuk casting film yang diadakan kurang lebih seminggu lagi. Jujur saja Bo young masih merasa ragu, tapi melihat betapa semua orang mendorongnya untuk semangat dan bekerja keras untuknya, Bo young tak bisa mundur. Ia tak mau mundur.

Film Sutradara Shin yang baru ini sangat berbeda dengan filmnya yang selama ini ia tonton. Filmnya kali ini romantis, sedih, namun lucu. Judulnya pun menggelikan, 'Saranghae, Oppa'. Bercerita tentang seorang gadis panti asuhan di desa yang selalu ceria dan kekanakan, namun sebenarnya sangat kesepian. Gadis ini nantinya akan bertemu dengan seorang aktor terkenal yang sifatnya jelek, sombong, angkuh dan kasar, namun sebenarnya perhatian dan sedang sakit parah, (tentunya sang gadis diawal tak akan tahu akan hal ini). Aktor ini nantinya akan tinggal di panti asuhan . Awalnya mereka sama sekali tidak akur. Sang gadis berusaha bersikap ramah, namun sang aktor begitu angkuh dan menyebalkan. Tapi lama kelamaan, intinya, mereka jatuh cinta. Tapi diakhir cerita, penyakit sang aktor membuatnya tak berdaya dan akhirnya meninggalkan dunia. Mungkin sebagian orang tak akan suka menonton film klise dan tipikal seperti itu... apalagi jika peran utama wanitanya diperankan oleh model serabutan dan amatir seperti Bo young...

Fyuh~

Park Bo young mendesah panjang. Ia mungkin bisa berakting ceria dan kekanakkan, tapi kesepian? ia tak yakin bisa. Apalagi akting menangis. Entah kenapa, ia begitu mudah untuk menangis saat menonton sebuah film atau drama sedih, tapi begitu sulit untuk menangis saat dituntut untuk menangis. Terlebih, di dalam naskah itu, frekuensinya berakting ceria bisa disamakan dengan seberapa banyak ia harus menangis.

"Sedang membaca apa?"

"Omo! Kau mengagetkanku..."

Bo young menaruh tangannya yang bebas diatas dada sambil menatap sosok jangkung yang sudah kembali kehadapannya.

"Serius sekali, apa yang kau baca?"

"Ah..." Bo young menggulung naskahnya dan memasukkannya kedalam celemek. "Bukan sesuatu yang penting, kok. Mana belanjaanmu?"

Song Joong ki mengangkat tangan kanannya dan menaruh keranjang belanjaan diatas kasir.

"Waaaaah, seleramu bagus! aku juga suka semua makanan ini!" seru Bo young sambil menatap setumpuk cemilan didalam keranjang dengan mata berbinar.

Joong ki tertawa, "Ambillah yang kau mau."

"Mana bisa begitu," ucap Bo young sambil mulai menghitung harga satu persatu makanan. "Eh, kita ini belum berkenalan secara resmi ya? Baiklah, aku Park Bo young, 23 tahun, kau?"

"Apa? kau 23 tahun? kukira kau baru lulus SMA."

Bo young cemberut. "Hah? kau sedang menghinaku ya?"

Joong ki tersenyum, "Justru aku memujimu, wajahmu tampak lebih muda dari seharusnya."

Bo young tertawa, Joong ki suka sekali mendengarnya. "Lebih muda dari seharusnya? apa itu maksudnya... hey, siapa namamu? jangan coba mengalihkan pembicaraan ya."

Song Joong ki pura-pura sibuk memilih permen yang ada di bawah meja kasir, tentu saja ia tak akan mengaku kalau dirinya Song Joong ki, kan? Tapi... rasanya jahat jika ia mengacuhkan ajakan berkenalan nona Park Bo young dihadapannya. Ah... jadi artis sulit sekali...

"Halooo?"

"Hmm, kau harus menebak untuk tahu siapa namaku," ujar Joong ki. "Tapi kuberitahu secara gratis, umurku 26 tahun,"

Bibir Bo young mengerucut, "Kok begitu?"

Joong ki memberikan sebungkus permen tenggorokan pada Bo young, "Kau terima tantangan ini atau tidak?"

"Kalau aku tak terima?"

"Kau tak akan tahu namaku,"

"Ck, baiklah, baiklah. Jadi, sampai nanti aku tahu siapa namamu, aku harus memanggilmu apa?"

Joong ki bergumam, "Oppa?"

Bo young memiringkan kepalanya dan ikut bergumam, "Oppa?"

"Ya, Mysterious Oppa."

"Hahahaha, kedengarannya konyol."

Bo young memberikan keresek belanjaan pada Joong ki, setelah selesai transaksi, Joong ki mengambil permen tenggorokan rasa strawberry yang tadi ia beli dan menyodorkannya pada Bo young.

"Makanlah. Suaramu terdengar serak."

Bo young menatap bungkus pink permen itu, kemudian beralih menatap ujung topi Oppa dihadapannya. "Oppa...kau...kau..."

"Tampan?"

Bo young refleks memutar bola matanya, "Dasar. Mana bisa aku menilai kau tampan atau tidak kalau topi itu menutupi setengah wajahmu seperti ini."

Joong ki tertawa, "Ya sudah, ambillah."

"Ah...kau perhatian sekali ya... terimakasih." Bo young mengambil permen itu dan tersenyum tulus. Rasa hangat yang menyenangkan tiba-tiba menjalar ke pipinya. Karena akhir-akhir ini ia banyak berteriak di kamar mandi untuk melepas stress, suaranya jadi agak serak. Tapi... ia tak tahu kalau Oppa dihadapannya akan menyadari hal itu. Manisnya...

"Kapan kau selesai kerja?"

"Eh, ungg, setengah jam lagi, kurasa."

"Dimana rumahmu?"

"Dekat, hanya dua belokan dari sini..."

"Kutunggu didepan ya? Cepatlah."

Sebelum Bo young dapat mencerna apa yang barusan ia dengar, Oppa dihadapannya sudah beranjak keluar minimarket. Bo young mengerjapkan matanya sambil menatap punggung Mysterious Oppa itu. Jantungnya jadi berdebar-debar, apa itu maksudnya ia akan mengantarku pulang? Astaga... benarkah? apa dia jatuh cinta padaku? eh, tak mungkin kan... lalu, apa? Ah, mungkin dia hanya mengkhawatirkanku? Aigooo, Bo young, kenapa kau merasa sesenang ini? kau kan, bukan anak SMA lagi! norak sekali... 

*

Song Joong ki duduk di kursi depan minimarket dengan perasaaan yang tak kalah bingungnya. Apa yang ia pikirkan? tiba-tiba ingin mengantar gadis itu pulang... gadis itu pasti menganggapnya orang aneh yang berbahaya. Bagaimanapun, mereka baru bertemu dua kali, kan? Lalu, berada di luar selama ini beresiko, bagaimana kalau seseorang mengenalinya?

Joong ki menghabiskan dua bungkus pocky sambil menatap jalanan sepi dihadapannya, melamun. Astaga, kenapa banyak sekali hal yang harus ia pertimbangkan?

"Mysterious Oppaaa~" Joong ki menoleh saat sesuatu yang hangat menyentuh pipi kanannya, Park Bo young sedang tersenyum sambil menempelkan sebuah cup minuman tertutup di pipinya. "Hangat?"

"Lumayan." jawab Joong ki sambil berdiri. Ia menerima cup itu dan langsung menyeruputnya, ternyata isinya kopi. "Terima kasih. Kau sudah selesai?"

"Um, toko tutup lebih cepat karena sepi pembeli." jawab Bo young. Ia memegang cup minuman dengan kedua tangannya, kemudian menyesapnya pelan-pelan. "Hmm, enak."

"Apa itu? kopi juga?"

"Ini coklat. Kau mau?" tawar Bo young sambil menyodorkan cupnya ke depan wajah Joong ki.

Joong ki menaruh telapak tangannya diatas tangan bo young dan menyesap coklat itu. "Wah, apa-apaan ini, manis sekali."

"Benarkah? tapi enak, kan? aku suka." ujarnya sambil menyesap coklatnya lagi. Sedetik kemudian, Bo young hampir tersedak karena menyadari kalau mereka baru saja minum dari tempat yang sama dengan ringannya, seolah-olah itu sudah biasa, seperti sepasang kekasih, astaga? Bo young menelan minuman itu seperti menelan sebongkah batu.

"Baiklah, tunjukkan arah menuju ke rumahmu." ujar Joong ki. Gadis dihadapannya hanya diam sambil menatap cup cokelatnya seolah-olah benda itu akan berubah jadi naga. "Bo young-ssi?"

"Ah, iya, a-ada apa?"

Alis Joong ki terangkat satu, kenapa gadis itu jadi gugup... ah! sesaat kemudian Joong ki tersadar, gadis ini pasti menyangka ia lelaki berbahaya. Yah, wajar saja, ia memang orang asing.

"Tenang saja, aku bukan orang jahat, aku hanya ingin mengantarmu." jelas Joong ki.

"Aku tahu..." ujar Bo young. "Ayo, Oppa."

Rasanya mendengar gadis itu memanggilnya 'Oppa' menyenangkan sekali, fans Joong ki yang rata-rata remaja juga memanggilnya Oppa, tapi rasanya berbeda. kenapa ya? Park Bo young ini memang aneh. "Ayo." Joong ki mengambil keresek belanjaannya dan berjalan disamping Bo young.

Sepanjang jalan mereka mengobrol tentang banyak hal. Tempat makan yang enak, kondisi kota Seoul yang semakin padat, lagu kesukaan... hingga 5 menit kemudian, mereka sudah sampai didepan rumah Bo young, sebuah apartemen sederhana berlantai tiga.

"Nah, Mysterious Oppa, terima kasih telah mengantarku. Kau saaaaaaaaangat baik." ujar Bo young sambil tersenyum, pipi dan hidungnya memerah karena kedinginan.

"Oo, cepat masuk dan tidurlah."

"Ah sebentar." Bo young merogoh sakunya dan memberikan bantalan penghangat pada Joong ki. "Genggamlah ini agar kau tetap hangat."

"Terima kasih, Bo young-ssi," ujar Joong ki. "Sekarang masuklah,"

"Tidak, kau saja yang pergi duluan."

Joong ki mengangkat tangan dan secara otomatis menyingkirkan sejumput rambut yang terselip di bibir Bo young. Bo young terkesiap saat merasakan hangatnya tangan Joong ki.

"Pipimu dingin sekali,"
"Tanganmu hangat sekali."

Keduanya mengerjap dan tertawa berbarengan. Joong ki menangkupkan telapak tangannya di pipi kanan Bo young, "Hangat?"

Bo young merasa wajahnya seketika semerah kepiting rebus, jantungnya berdebar kencang... uwaaaaaa! "ha-hangat."

Joong ki tersenyum. "Cepatlah masuk sebelum tubuhmu jadi es."

Bo young sedikit merasa tak rela saat Joong ki melepaskan telapak tangannya dari pipinya, "Baiklah... Ummm, selamat malam."

Joong ki tersenyum dan memasukkan kedua tangannya ke saku hoodienya yang berisi bantalan penghangat. "Dah,"

Bo young menganggukkan kepala dan berbalik. Baru beberapa langkah gadis itu berjalan, ia kembali membalikkan tubuhnya dan tersenyum saat mendapati Mysterious Oppa masih berdiri disana. "Sampai jumpa?"

"Sampai jumpa." balas Joong ki.

Bo young tersenyum lebih lebar, ia memasuki pintu apartemennya dengan perasaan berbunga-bunga. Astaga... Park Bo young, kau berlaku seperti anak SMA lagi... 

*



0 komentar:

Posting Komentar

 

Clover's Blog Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos